ㅤ█ ㅤㅤHAMANO ZEN

ㅤ#hamanozen #zen
ㅤ#profie #gettoknow


ㅤ█ ㅤㅤHis life on a pic.

ㅤ#hamanozen #zen
ㅤ#trivia #fact


ㅤ█ ㅤㅤThe Rolling Ball.

ㅤ#hamanozen #zen
ㅤ#backgroudstory


ㅤ█ ㅤㅤHands on me.

ㅤ#hamanozen #zen
ㅤ#relations


ㅤ█ ㅤㅤFUTURE.

ㅤ#hamanozen #zen
ㅤ#tenyearslater #27yo!Zen

&&&&&&
NameFullHamano Zen
Nick NameZen
MeaningVirtue
Kanji浜野 膳
Hiraganaはまの ぜん
BirthPlaceTokyo, Japan
DaySaturday 
DateApril 3
StatusPresenceAlive
RaceHuman
NationalityJapanese
ReligionChristian
SexMale
SexualityHeterosexual
MaritalUnmarried
Blood TypeA
HandednessRight handed
Brain ProcessLeft
IdeologyNeo-liberalism
JobMainA student of Tenjin Kokusai High School, majoring art studies.
Part-time-
FormerJapanese Youth National Team of Basketball as the Shooter.

PHYSICAL APPEARANCE

Sangat senang memakai pakaian kasual dan sporty. Dirinya sering juga mengenakan hoodie. Mengenakan parfum beraroma jeruk mint dan sering menggunakan kacamata meski matanya normal. Ia juga terkadang terlihat mengenakan aksesoris seperti gelang, kalung, dan anting-anting di telinga kirinya.

xxx
Height181cm
Weight63kg
Skin toneFair
EyesDark Brown
Hair(Basically) Black
Special featuresPointed nose
Sharp jawline
Thick lips
Abdominal muscle and biceps 
Shoe size43 EUR
Clothes sizeS L to XL
VisualizationPark Seonghwa
VoicePark Seonghwa

PERSONALITY

Saat masih kanak-kanak, karena seringnya Zen mengikuti orang tuanya berpindah tugas, ia merupakan anak yang cepat beradaptasi dengan lingkungan, tetapi tidak dengan bersosialisasi. Hal ini diakibatkan oleh ketakutannya kembali kehilangan kawan dan sifat pemalunya yang keterlaluan. Hal ini juga berimbas pada kesulitan dirinya membuka percakapan dan kerap menjadi pihak yang pasif. Maka dari itu, ia tidak memiliki sahabat dan jarang berkawan akrab dengan seseorang. Pada dasarnya, Zen merupakan sosok yang ramah dan gemar tersenyum.

Dirinya memiliki cita-cita dan tujuan pasti, yang membentuknya menjadi sosok yang ambisius dan pekerja keras. Sangat membenci kebohongan dan sesuatu yang dilakukan setengah hati saja.

Namun, setelah dirinya berpindah ke Kobe, ia mulai bisa berkawan dan menghilangkan sifat malunya, bahkan mulai berkelakar. Hal itu karena ia menemukan mimpinya, yaitu menjadi seorang pemain basket profesional.

Ia berhasil mewujudkan cita-citanya dengan menjadi salah satu anggota tim nasional Jepang. Namun, cidera dan membuatnya tidak lagi bisa bermain basket dalam jangka waktu yang panjang juga setelah dikeluarkan dari tim, sifatnya yang pendiam kini dibumbui dengan dirinya yang memasang tampang dinginnya untuk menyekati diri dari kemungkinan ia akan dikhawatirkan oleh mantan rekan satu timnya atau orang lain. Bila tak berekspresi, ia akan tersenyum. Begitu saja. Tak ada ekspresi lain yang ia miliki.

Ia tak suka pernah suka dikasihani. Ia agak berlagak seolah tak memedulikan lingkungannya. Padahal, ia selalu memperhatikan, tetapi memilih tidak memasuki sebuah lingkaran tertentu. Ia yakin, ia bisa melakukan segalanya seorang diri.

Interaksinya dengan orang-orang juga semakin kaku. Ia pula hanya tersenyum dan tertawa menanggapi sesuatu. Terkadang, sepatah dua patah yang dilontarkan. Hanya bila situasi tertentu saja ia bisa berbicara panjang lebar dan memang bila diharuskan untuk melakukan itu.

Jauh di lubuk hatinya, Zen sangat kesepian. Oleh sebab itu, ia kerap terlihat seorang diri seraya melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendistraksi rasa sunyi yang mengelilingi dirinya. Sering berkelana seorang diri memperhatikan kegiatan manusia dan mengabadikan objek menarik melalui kamera.

Ia belum mau membuka diri untuk berkawan lagi, karena tak ingin mengecewakan mereka dengan kegagalan-kegagalan yang selalu menghantui Zen. Zen juga bukan sosok yang malu untuk menangis dan meluapkan kesedihannya, meski tak ia tunjukkan pada orang lain.

Zen jarang mengeluarkan amarahnya di depan umum. Ia selalu menyimpan segalanya untuk diri sendiri, meluapkan amarahnya seorang diri. Ia tidak menyukai konflik dan selalu menghindarinya, tetapi bila ia terjerat sebuah masalah, ia sebisa mungkin akan selalu bertanggungjawab.

Baginya, iya adalah iya dan tidak adalah tidak.

Gaya bicaranya sedikit suka-suka dan ceplas-ceplos. Bila ia sudah berkelakar, tandanya ia sudah membuka dirinya dan mau berkawan lebih dalam. Hanya saja, hal itu sedikit langka bila tidak ada momen tepat. Ia tidak pernah memikirkan perasaan orang lain oleh kalimat yang ia lontarkan. Bicara bila diperlukan saja, menanggapi bila tepat saja.

STRENGTHS

•─ Analitic Skill
He has a keen eye for details and often spot any unsual things that most people tend to forget or ignore. He has broad and deep knowledge of many subjects and trivia, thanks to his parents.
•─ Sports
He is a national player in basketball team. He play sports since he was 2. He could play any sports, but not with pingpong. He is a purple-belt in karate and well-trained in Taekwondo because being taught by his uncle. He is flexible and has a great accuracy. He also has a great strength and good at dodging.
•─ Pitch Perfect
He can identify notes accurately since he was a kid. He use this skill to know people movement by the sound that produced. Hence, he can learn several music instrument faster than average people.
•─ Language
He is a native Japanese, but he is well-educated in English because he always enter International School since kindergarten and moving from one country to another due to his father's works. He is fluent in both Korean and Mandarin as he learned them in school for 9 years.
•─ Acuracy
He is a good shooter. He always hit the spot whether using balls or just throwing the garbage to the trash can. Hence, he picked as the shooter of the Youth National Basketball Team.

WEAKNESSES

•─ Insensitive
He is insensitive to what others’ feeling. He could understand the situation well, but decided not to care and pretend that he doesn't understand instead.
•─ Easily bored
He always find ways to create excitement, because he is easily getting bored. It makes him to have a risky behavior.
•─ History
Contradict to his ability to solve exact subject, he is really poor on historical subject. He just hate it, although he could memorize important things. He tends to forget if things didn't affect him.
•─ Household skill
Cant wash his clothes properly, bad at decorating interiors, can't fix broken things, can't sew his pants.
•─ Game
He is very unlucky when it comes to playing games. He always lost at paper, rock, scissors game. He also the first to be found in Hide and Seek. But, he always enjoy playing game.
•─ Bugs and reptiles
He loves animal, but not bugs and reptiles. He hates them!

STATUSSCALE 1-10
Stamina█████████▒
Accuracy████████▒▒
Strategy███████▒▒▒
Emotions██▒▒▒▒▒▒▒▒
Mind██████▒▒▒▒
 
Lust██▒▒▒▒▒▒▒▒
Gluttony████▒▒▒▒▒▒
Greed█████▒▒▒▒▒
Sloth█████▒▒▒▒▒
Wrath█▒▒▒▒▒▒▒▒▒
Envy████████▒▒
Pride█████████▒
 
Prudence█████▒▒▒▒▒
Courage██████▒▒▒▒
Justice█████▒▒▒▒▒
Love██████▒▒▒▒
Hope█████▒▒▒▒▒
Faith██▒▒▒▒▒▒▒▒
Humility███▒▒▒▒▒▒▒
Kindness██████▒▒▒▒
Abstinence██████▒▒▒▒
Chastity████████▒▒
Patience█████████▒
Liberality████████▒▒
Diligence████████▒▒

RANDOM FACTS

  • Cita-citanya adalah pemain basket profesional. Ia juga mantan penembak jitu di tim basket sekolah lamanya dan juga ditunjuk sebagai penembak jitu dari tim nasional Jepang. Ia terpaksa dikeluarkan dari tim karena cidera bahu yang dideritanya.

  • Ayahnya adalah seorang konsulat dan sering berpindah tugas baik dalam mau pun luar negeri. Zen terpaksa ikut serta setiap kepindahannya. Mereka telah berpindah dari Jepang ke Korea, Thailand, dan Tiongkok. Zen tidak ikut saat orang tuanya ke Amerika dan tinggal di asrama Tenjin Kokusai.

  • Merupakan seorang anak tunggal yang menjadi kebanggaan orang tua sekaligus boneka kesayangan mereka.

  • Mahir bermain piano dan sedang mendalami alat musik gesek, terutama violin.

  • Cidera bahunya masih sering kambuh ketika ia kelelahan dan melakukan sesuatu dengan tangannya secara berlebihan. Saat ini, ia harus terapi rutin satu kali seminggu dengan dokternya di rumah sakit Universitas Tokyo.

  • Sangat menyukai kamera. Setiap harinya, ia pasti mengambil foto, baik dari ponsel, maupun kameranya. Namun, dirinya lebih memilih menggunakan kamera analog untuk memotret momen-momen penting.

  • Kurang begitu menyukai makanan manis. Ia lebih memilih makanan berperisa asin maupun pedas. Americano yang ia pesan selalu pahit tanpa gula sedikit pun.

  • Memiliki peliharaan kucing bernama Momo dan anjing bernama Mimi. Untuk sementara, mereka dititipkan di rumah kawan semasa SMP di Kobe.

  • Agak sulit membuat percakapan dengan seseorang yang baru dikenalnya. Pun, jika sudah mengenal, Zen masih lebih banyak diam dan menjadi pendengar yang baik dari pada menjadi si pembicara topik.

  • Sering terlihat memainkan bola basket di tangannya tanpa bisa melemparkannya ke dalam ring, karena tidak dianjurkan oleh dokter agar pemulihan lebih cepat terlaksana.

  • Dapat melihat makhluk astral, meski tidak dalam bentuk yang jelas. Namun, ketika ia dalam keadaan sakit atau kelelahan ia bisa melihatnya dalam bentuk nyata. Hal ini ia dapatkan ketika duduk di bangku SMP karena kecelakaan kecil di kepalanya.

  • Tidak familiar dengan romansa, dikarenakan ia belum pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang. Ia juga jarang menonton film dengan tema romansa. Ia lebih memilih animasi, horror, dan fantasi.

  • Ia masuk dikualifikasi sebagai seorang Gryffindor dalam serial Harry Potter dan bagian dari Selfless dari serial Divergent.

  • Bila orang tuanya sering memaksa Zen menjadi seseorang yang multitalenta dan dapat melakukan segalanya sehingga ia terpandang dan tidak memalukan, Kakek dari pihak Ayahnya malah memaksa Zen untuk menjadi seorang pebisnis seperti dirinya. Saat mengetahui Zen cidera karena basket dan memasuki sekolah dengan jurusan seni, ia marah besar.

xxx
LanguageNative: Japanese
Spoken: English, Korean
Broken: Thailand, Mandarn
Learned: Indonesian, French, Germany
Lucky Number33
FoodsMeat, takoyaki, dumplings, chicken feet, fried chicken, pizza
DrinksCarbonated drinks, tea, lemonade, orange squash
SportsRunning, basketball, karate, baseball, swimming
SnacksFrench fries, potato wedges, Mac and Cheese
SingerRed Velvet
Movie genreMystery, Horror
ColorWhite, Black, Blue, Red
ScentedMint, Petrichor
SeasonAutumn
Best body featureLips
HobbyPhotography
GoalsTo be a good person
HabitMaking duck lips when concentrating, biting her lips
Childhood dreamActor
Favorite songFinding Hope - 3 AM
LikesMusic, food, nature, picture
DislikesSummer, dust
HolidayChinese new year
CatchphraseDo it

Gugurnya dedaunan kuning dan cokelat menghiasi kanan kiri jalanan mendadakan bahwa musim gugur telah memukul mundur si musim panas dari singgasana. Hawa sudah tak sekering bulan-bulan lalu. Angin sepoi nan sejuk juga menemani tiap langkah yang dilaku.

Hari telah berganti lagi.
Musim juga berputar lagi.

Namun, tidak dengan senyuman manis dua sejoli yang tengah memandangi gugurnya dedaunan dari balik jendela kediaman mereka. Saling merengkuh bertukar hangat jua kasih. Usapan-usapan lembut juga mengawani perut sang wanita yang tampak membengkak oleh kehadiran bayi pertama dalam keluarga mereka.

Satu minggu menuju Oktober. Dokter memperkirakan bayi mereka akan menghirup udara dunia pada tanggal dua di bulan kesepuluh tersebut. Setiap harinya, pasangan suami istri ini tak berhenti menantikan hari tersebut agar tiba dengan segera dan menyambut anak pertama mereka dengan senyuman paling lebar.

"Bila lelaki, akan kuberi nama Hamano Zen," kata si wanita dengan mengusap perutnya, "Kalau perempuan, kau saja yang pilih, Ayah."

Tertawalah sang lelaki oleh panggilan tersebut. Tangannya turut serta mengelus loka di mana buah hatinya tengah bersemayam, "Hamano Kei. Ah, nama apa pun juga akan cocok disanding untuknya, karena ia akan cantik sepertimu."

Ruangan mereka dipenuhi gelakak manis dan penuh cinta kasih, sebelum pekikan kecil keluar dari pihak Goto Hana. Kian lantam dan konstan terlaksana, membuat kepanikan mekar dalam dada Hamano Yuya. Tanpa pikir panjang, rumah sakit menjadi tujuan utama saat ini. Kendaraan disetir buru-buru, tiada peduli rambu-rambu. Hingga Goto Hana sudah ditangani dokter mereka, rasa was-was masih menguasai dirinya.

Di sudut jendela rumah sakit, ia menuliskan perasaannya dalam secarik surat. Bahkan ketika suster mengatakan bayinya sudah lahir lebih cepat tujuh hari, ia masih tak beranjak. Terlampau bahagia membuatnya mati kutu. Anak pertamanya telah menjejak ke dunia dengan selamat.

"Apa jenis kelaminnya, Suster?"
"Laki-laki."

Kembali ia sibuk dengan kertas dan penanya. Di akhir kalimat, ia menggaritkan sebuah nama dengan senyuman terlebar yang pernah ia laksana. Bisikan dilantas seiring selesainya kalimat ia torehkan dengan tinta hitam.

"Selamat datang, Hamano Zen."

"Ibu, apa kita akan berpindah lagi?"

Bocah lelaki berusia sembilan tahun itu mengintip dari balik pintu kamar utama, di mana sang Ibu tengah mengepak pakaian-pakaian dalam koper dan tas-tas besar. Tersenyum ia memandang anaknya, menganggukkan kepala dua kali. Kali ini, mereka akan kembali ke tanah air, Jepang. Mengikuti perjalanan pekerjaan orang tuanya sungguh memuakkan Zen. Tidak pernah ia memiliki kawan akrab layaknya anak-anak seusianya. Tidak merasakan bermain petak umpet dan berlarian hingga petang menjelang. Selalu berganti kenalan tanpa sempat mengenalnya semakin jauh 'tuk bisa disebut kawan.

Selama sembilan tahun hidupnya, ia sudah berpindah di tiga negara yang berbeda.

"Bu, apa tidak bisa Zen tinggal di Thailand saja? Zen ingin berkawan dengan Mon dan Pat. Zen juga ingin b-"

"Tidak, Zen. Kamu harus ikut Ayah dan Ibu kembali ke Jepang. Kamu juga akan dapat teman di sana. 'Kan, kamu anak baik?"

Selalu begitu. Selalu alasan itu yang diberikan. Apa kuasa anak usia sembilan tahun menolak titah orang tuanya dan meminta tinggal di negeri orang seorang diri? Tidak akan diizinkan. Tidak akan pernah terjadi.

Maka, perjalanan kembali terlaksana. Mereka telah tiba di Jepang. Segala urusan akademik Zen juga sudah terselesaikan. Bocah lelaki itu ditempatkan di kelas tiga. Berkenalan dengan beberapa rekan sekelasnya dan duduk sebangku dengan seorang gadis cilik berparas ayu yang kelak menjadi kawan pertamanya selama sembilan tahun ia hidup di dunia.

Mereka berbagi cerita, bertukar bekal kala waktu istirahat tiba, terkadang jua menyusuri jalanan untuk pulang bersama. Tiada habisnya ia tersenyum jika eksistensi nona manis itu berada di sandingnya. Nona itu Kashiwagi Yuriko, lengkap dengan kepangan rambut di dua sisi bahunya.

Mereka tumbuh bersama melewati semester demi semester di sekolah mereka. Belajar bersama untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Hingga memasuki bangku kelas lima sekolah dasar, semuanya tak lagi sama.

"Zen, kita akan pindah ke Kobe."

Segala bayang-bayang hari menyenangkannya perlahan runtuh. Rasa penyesalan sebab tak dapat menyampaikan salam perpisahan pada satu-satunya sahabat yang ia miliki sangat mendarah daging dan selalu menghantui dirinya kapan pun ada kesempatan.

Hidupnya di Kobe berjalan dengan amat baik. Melewati masa akhir di sekolah dasar hingga kini duduk di bangku sekolah menengah atas tahun pertama. Dari dirinya yang tertutup dan tak mau berkawan, menjadi seorang anggota inti tim basket sekolah dan membawa pulang banyak kejuaraan.

Dari dirinya yang dihantui bayang-bayang kehilangan, menjadi sosok yang disenangi banyak orang karena kepiawaiannya menggiring bola dan menembakkannya ke dalam ring tanpa meleset. Menjadi sosok pahlawan penyelamat nama tim basket sekolah dan menuai banyak penggemar.

Ia tak lagi hidup dalam penyesalan. Zen lebih disibukkan dengan kegiatan turnamen dan juga belajar di kelas. Sebetulnya, ia memang sengaja melakukan hal itu untuk mendistraksi dirinya dari memori masa lalu juga kesepian yang menghantam, sebab absennya orang tua dalam setiap aspek hidupnya karena kesibukan masing-masing.

Zen berpikir, ia harus bekerja keras untuk mendapat rekognisi, bahwa ia mampu melakukan apa pun seorang diri.

Dirinya selalu bekerja lebih keras dari siapa pun. Selalu belajar lebih tekun dari rekan-rekannya. Berusaha menjadi paling unggul untuk mengais atensi dari orang tuanya.

Namun, ia terlampau keras pada dirinya sendiri. Hingga cidera bahu menghantamnya dan membuat ia juga tak bisa berada di tim inti dan mengikuti turnamen-turnamen yang akan datang. Ia juga terpaksa dikeluarkan dari tim karena tidak juga bisa dijadikan cadangan.

Jika sudah terluka atau tiada, atensi akan dengan cepat mengalir. Begitu pula dengan kedua orang tua Zen yang terlampau khawatir akan keadaan anaknya, ketika sebelumnya mereka tak pernah peduli meski Zen berhasil membawakan piala utama di turnamen antar negara.

Hal itu diperburuk oleh rencana kepindahan Ayahnya ke Amerika, sekaligus untuk menerapikan bahu Zen. Berlagak kuat, ia merasa tidak semengenaskan itu. Untuk pertama kalinya, ia menolak keras rencana kepindahan sang ayah dengan amarah yang membuncah. Ia tidak suka dikasihani sedemikian rupa.

Pada akhirnya, Zen mendapatkan wewenangnya mengatur diri sendiri. Langkah pertama yang ia ambil adalah tidak mau mengikuti kepindahan Ayahnya. Tidak ada satu pun anggota keluarga mereka di Kobe dan kedua orang tuanya tidak mau melepaskan Zen hidup sendiri. Mereka masih merasa Zen tidak akan mampu melakukan apa pun seorang diri.

Zen diberikan izin tinggal di Jepang, tetapi dengan satu syarat yang diberikan orang tuanya. Masuk sekolah berasrama. Zen menyetujui hal tersebut, selama ia bisa berada di Jepang.

Maka ia akan dipindahkan ke Tenjin Kokusai yang memiliki fasilitas asrama. Meski ia tak ingin kembali ke Tokyo, ia tak punya pilihan lain. Orang tuanya terlampau pemilih dan tidak membiarkan Zen memilih urusan akademiknya sendiri. Ia akan baik-baik saja. Toh, ia bisa ke Kobe kapan pun bila ada waktu luang. Tenjin Kokusai kini menjadi satu-satunya harapan Zen untuk tetap tinggal di Jepang.

Hari-harinya di Tenjin Kokusai berjalan sebagai mana keinginannya. Kakek yang tak lagi mengusiknya menjadi penerus perusahaan keluarga, Ayah dan Ibu yang tak lagi memaksakan kehendak mereka dan membiarkan Zen memilih jalan hidupnya sendiri, juga hilangnya kekhawatiran akan berkawan dan bersosialisasi. Zen perlahan berubah dan jarang bersembunyi di balik diamnya. Ia juga sudah sering mengeluarkan pendapatnya dan menanggapi sesuatu. Zen sangat berbeda dari pada saat pertama kali memasuki sekolahnya dan perubahan sosoknya bukanlah hal negatif.

Namun, dengan mudahnya ia mengekspresikan diri, ia bahkan tak sungkan lagi untuk mengeluarkan amarahnya. Takatsuji Osamu adalah pemicu kemarahan terbesar selama hidup Hamano Zen. Tuan itu menghajarnya habis-habisan hanya untuk membela Yuriko setelah mengetahui bahwa sahabatnya itu dimanfaatkan. Perkelahian ini membawa Takatsuji Osamu terbaring di ICU, sementara itu Zen harus terima konsekuensi bahwa ia dikeluarkan dari sekolah dan menyusul orang tuanya ke Amerika.

PEOPLE AROUND HIM.

Hamano Asahi, pria berusia 40 tahun yang bekerja sebagai seorang diplomat kedutaan besar. Ia merupakan ayah dari Hamano Zen. Ia adalah lelaki yang lumayan otoriter dan tidak suka ditentang. Namun, ia sudah mulai mendengarkan pendapat anaknya sejak Zen cidera.

Takahashi Aika adalah seorang istri yang setia pada suaminya. Senantiasa mengikuti perjalanan sang Suami ke mana pun negara mereka akan berlabuh, membuatnya hanya menjadi seorang Ibu rumah tangga. Memiliki gengsi yang tinggi dan tidak mau kalah. Ia sangat menyayangi Zen, tetapi selalu salah langkah menghadapi anaknya sendiri.

Kashiwagi Yuriko merupakan kawan pertama yang ia miliki seumur hidup. Seiring dengan berlalunya masa, tumbuhlah sebuah rasa lain yang diketahuinya sebagai cinta pertama. Ia sangat mengagumi sang gadis, tetapi takut untuk mengungkapkan perasaannya.

"I found my home and I found my ultimate happiness. I found you, Fumihito Yūna."

NAMA
HAMANO ZEN

USIA
27

STATUS
Sudah menikah

PEKERJAAN
Stage Director
Composer of Tick Tack Producing Team

DOMISILI
Berlin, Jerman

Hamano Zen atau lebih dikenal dengan nama Zen, adalah seorang komposer dari rumah produksi Tick Tack dan stage director asal Jepang yang berbasis di Jerman. Musiknya menggabungkan berbagai gaya, termasuk dream pop, synth-pop, art pop, elektronik, pop eksperimental, R&B, dan hip-hop.

Setelah hal-hal yang terjadi dalam masa sekolah menengahnya di kelas dua, Hamano Zen pun meninggalkan Jepang dan pindah ke Jerman untuk mengobati cedera bahunya sekaligus melanjutkan pendidikannya. Ia memutuskan untuk melanjutkan kegemarannya dalam mengolah nada dan melodi di Hochschule für Musik Hanns Eisler Berlin. Setelah menempuh pendidikan dan memenangkan beragam kompetisi menulis dan memproduksi lagu, Zen memutuskan untuk menetap di Berlin bersama dengan Fumihito Yūna, salah seorang kawan satu sekolah di Tenjin Kokusai, yang mana keduanya tanpa disengaja bertemu di sekolah selepas kepindahan ke Berlin. Pertemuan itu jua membawa Yūna dan Zen ke dalam sebuah hubungan lebih dari seorang teman. Kini, di usianya yang ke dua puluh tujuh, Zen memutuskan untuk mendampingi Yūna sebagai teman hidupnya. Iya, ia melanjutkan kehidupannya sebagai suami Yūna di kota yang mempertemukan keduanya, Berlin.